kelelawar, sebuah epilog

Pemandangan di kampung halaman kesukaan saya sejak kecil adalah saat sekumpulan besar kelelawar terbang keluar dari sarangnya setelah senja menjelang. Saya tidak pernah tahu persis berapa jumlahnya, hanya keterangan superlatif yang dapat menggambarkannya karena jumlahnya amat sangat banyak. Sarang-sarang mereka adalah pohon-pohon tua yang bahkan lebih tua dari umur kota. Ada juga yang berdiam di gedung tua dan gua-gua. Saat jingga mulai menyemburat, mereka mengepakan sayap menembus angkasa yang suram menuju malam. Indah.

Kini saya tidak sesering dulu memperhatikan ksatria-kstaria malam itu meninggalkan sarang. Namun, kadang-kadang saya masih teringat untuk menyempatkan diri menengadahkan kepala dan melihat mereka terbang membentuk pelangi hitam di cakrawala. Jumlah mereka tak sebanyak dulu. Entahlah,… tapi saya yakin jumlah mereka tak sebanyak dulu.

Begitulah dunia…segalanya berubah. Semua tak seperti dulu. Mungkin beberapa masih berhasil bertahan menggenggam masa lalu, seperti pohon-pohon tua, gedung-gedung, museum, jalan-jalan, patung-patung. Namun kita tidak.

Manusia terlalu hidup untuk tidak berubah.

Lalu seperti apakah hidup yang kita jalani? Di tengah tatanan masyarakat yang hipokrit dan determinasi yang absurd, kita terus merengkuh pelajaran menjadi bijaksana, berharap menjalankan kesederhanaan atau serakah akan segala. Seraya denyut jarum yang berirama allegro terus mengiringi langkah kita yang berputar-putar di dunia yang terus berubah.

Para bijak selalu inginkan perubahan membawa kebaikan, seperti rakyat kecil yang mengharap ratu adil…seperti para pujangga yang menanti kekasih, seperti kapal star trek yang menembus galaksi lain. Seperti kita yang mencari jati diri.

Entah berapa lama…

Entah berapa lama hingga kita tidak melihat kakek itu mengemis di bawah lampu perempatan. Entah berapa lama hingga kita melihat adik itu memakai seragam sekolahnya. Entah berapa lama hingga hamas bergandengan dengan fatah. Entah berapa lama hingga perempuan malam itu menghapus gincunya. Entah berapa lama hingga tikus-tikus berdasi tercekik.

Entah berapa lama…

Entah berapa lama para kelelawar itu tetap tampak di langit sore. Tanpa mereka senja akan semakin sepi dan malam akan putus asa mengharapkan pagi. Pagi, itulah saat burung-burung menyusui itu kembali. Pemandangan yang tidak kalah indahnya dengan sang senja. Mereka kembali ke sarang, pulang. Menerobos cakrawala menuju pohon-pohon tua yang anggun, gedung-gedung lama yang tak bertuan, dan gua-gua yang tak pernah didatangi siapa pun.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.